Tentang Menunggu

Kemarin saya melihat tulisan ini. Di halte dekat rumah, tempat saya biasa menunggu moda transportasi kebanggaan kota, transjakarta. Saya hanya bisa menghela nafas panjang sesaat setelah membacanya. Bisa saya tebak efek dari tulisan ini. Bus akan semakin jarang, calon penumpang mengular panjang, serapah akan lebih mudah didengar dan tentu saja waktu menunggu akan semakin lama. Waktu menunggu akan semakin lama.

 

***
Menunggu. Pekerjaan yang tidak menyenangkan bagi banyak orang. Hal yang paling dihindari oleh sebagian lainnya. Dalam banyak hal keadaan sering kali memaksa kita untuk menunggu. Suka tidak suka. Rela tidak rela. Mau tidak mau. Dan jakarta dengan segala ketergesaannya mengajarkan banyak pelajaran tentang menunggu bagi saya.

 

***
Saya menunggu datangnya armada transjakarta. Saya menunggu lift yang akan membawa saya ke lantai dua puluh sekian. Saya menunggu giliran bertransaksi di bank. Saya menunggu ini dan itu. Saya menunggu. Menunggu dan menunggu. Setiap hari. Dan berulang lagi. Bukan kerelaan tapi keadaan.

 

***
Menunggu menguras kesabaran. Tentu saja. Menyerap energi positif. Pastinya. Bilang ini logika terbalik atau apa pun. Tapi saya kemudian mencoba bersahabat dengan menunggu. Berakrobat dengan pikiran saya sendiri bahwa menunggu bisa pula menyenangkan. Maka sebisa mungkin saya akan melakukan hal hal yang menyenangkan hati sembari menunggu. Kadang saya akan mendengarkan lagu kesukaan. Kadang saya membaca buku. Kadang saya membuka lembaran koran elektronik. Kadang saya akan menyapa teman dunia maya. Semua saya lakukan sembari menunggu bus transjakarta yang semakin hari semakin lama datangnya. Bahkan menunggu bus transjakarta kadang membuat saya berpikir untuk memilih naik bus yang datang atau yang datang selanjutnya.
Saya suka memperhatikan orang orang yang lalu lalang ketika saya menunggu lift kantor. Saya senang tersenyum pada mereka yang tidak saya kenal saat kita sama sama menunggu lift. Ringan saja. Tapi terasa hangat.

 

***
Dan menunggu pun bisa jadi menyenangkan. Tak lagi menyebalkan. Apalagi dosa tak termaafkan. Kadang saya berpikir bahwa menunggu memberi kita waktu lebih untuk berpikir. Kadang saya berpikir menunggu memberi ruang bagi kita untuk melakukan hal hal yang tidak mungkin dilakukan jika kita tidak menunggu. Dan pada akhirnya saya sadar, bahwa menunggu menawarkan dua pilihan. Menunggu yang menyenangkan atau menunggu yang menyebalkan. Saya? Tentu saja memilih yang pertama.

 

***
Heyyyy… Kalian masih menunggu datangnya belahan jiwa untuk dijadikan mitra hidup bersama? Saya iya. Dan saya memilih menunggu yang menyenangkan. Sembari menunggu dia datang, saya menyenangkan diri dengan kerabat dan sahabat, menyibukkan diri dengan hal hal yang saya sukai, dan bersyukur atas segala keadaan diri saya. Menyenangkan bukan? Ini saya sedang menunggu lho. Dan bukan hal yang tabu juga kan ya, jika selama menunggu saya lirak lirik pria pria beraroma aftershave jantan yang menyenangkan itu. At moment I love waiting.. *lirik si mas arah jam 12. Hihihi :))

 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Menunggu

  1. lha kalo baca postingan saya yg di Trilogi Kosong di Pojok Pradna…saya memilih menunggu dari jam 2 pagi sampe jam 6 pagi…buat menikmati waktu “Kosong” itu 🙂

  2. Hal yang sama.. Ternyata sabar memang tak ada batasnya.. Tetep ⓢⓔⓜⓐⓝⓖⓐⓣ dan yakin bahwa Alloh Swt ora sare.. Pasti kita akan disegerakan dan diberikan yang terbaik, Amiin YRA.. sekali lagi.. SABAR kita jadikan kata kunci, yukk mareee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s