Tentang Monas

dari kecil saya sudah menyukai monas. ingin rasanya melihat kilau emas monas dari dekat, naik ke puncak tertinggi dan naik andong berputarputar monas. mungkin keinginan yang terlalu muluk untuk seorang anak desa seperti saya. beberapa kali berkunjung ke jakarta, tapi tak satupun singgah ke monas. dan mimpi tentang monas terus tertancap di benak sampai saya dewasa.

***

Allah Maha Baik.

akhir 2006,

saya bekerja di gedung di jalan abdul muis dan kantor saya berhadapan langsung dengan monas. senang sekali rasanya, tiap sore pulang dari kantor bisa memandang dari dekat. dan ada yang lebih menyenangkan. saya berteman dekat – eeehhmmmm- dengan pegawaikantorpemerintahandepangedungsayayangternyatakakakkelassaya, yang mengetahui keinginan saya -dan tidak menertawakannya-, dan berusaha mewujudkan keinginan saya. saya diajak naik ke puncak monas, menikmati senja dengan berceritabanyak di bangku taman monas, berputarputar naik andong, menikmati air mancur bergoyang di akhir pekan, dan menikmati soto ayam enak di sana. aaaahhhhh indahnya dunia ketika keinginan lama kita bertransformasi dalam bentuk nyata :). satu hal yang saya kurang saya sukai dari monas. ya, tamannya. taman monas terkesan kotor. dan tidak terurus. semak, belukar, ilalang tumbuh dengan liar. sangat menganggu keindahan. sungguh tidak sedap dipandang mata.

***

awal 2007,

saya harus berpindah pekerjaan dan berkantor di kawasan utara ibukota. dan relasi dengan bapak itu pun terhenti. praktis sejak saat itu saya tidak pernah berkunjung lagi ke monas. melintasi monas pun jarang sekali. namun, ingatan akan taman yang kotor tetap lekat di benak saya.

saya tidak berpindah pekerjaan, tapi di akhir 2007, perusahaan tempat saya bekerja berpindah kantor. di daerah sudirman. ya…. sudirman. itu berarti saya kembali mengakrabi monas. karena rute yang saya tempuh adalah rumah-sumberwaras-harmoni-monas-bi-sarinah-bundaran hi-tosari-dukuatas-kantor. iyah, itu rute transjakarta saya. dan taman monas tetap saja kotor dan tidak terurus.

****

februari 2009,

tibatiba ada yang berbeda dengan taman monas. taman monas berubah menjadi bersih, rapi dan tertata. memang beberapa hari sebelumnya saya membaca salah seorang petinggi kota mengeluhkan kondisi yang sama dengan apa yang saya rasakan. dan saya senang sekali.

disuatu sabtu malam, saya dan seorang teman, sebut saja abang -say hi to abang, yang mungkin sedang tersenyumsenyum membaca catatan ini-, melintasi monas yang tertata indah itu. dan di blitzcafe pp, sebelum menonton slumdog millionaire, ditemani hot cappuccino untuk saya dan jus strawberry untuk abang dan french fries yang hambar meski sudah meminta additional salt -ingatan saya kuat sekali ya, how ironic me!-, kami terlibat pembicaraan tentang taman monas. ternyata abang berkawan dengan petinggi di mana monas berada. dari abang saya mengetahui tentang pembenahan monas, rencana pengelolaan monas ke depan, kiblat pembenahan monas dan sejenisnya. next question is ini date apa diskusi panel ya? hihihihi :).

on top of everything else, saya senang monas rapi dan bersih, meskipun saya bukan penduduk resmi jakarta :).

****

ada kalanya hati kita seperti taman monas sebelum dibersihkan. ada kalanya semak kebencian, ilalang dendam, belukar kemarahan tumbuh liar di hati kita. berawal dari rasa kecewa dan sakit karena perlakuan teman, rekan kerja, atau mungkin mantan pasangan yang tidak mengenakkan bahkan sampai mencederai harga diri kita.

terutama mantan pasangan. apalagi jika…

he dumped you for no reasons

he left you with a bunch of unanswered questions

he married another woman.

i experienced with the feelings, marah, kecewa, sakit, dendam. semuanya masuk akal. dan seperti taman monas, perasaan iitu pun bisa tumbuh dengan liarnya di hati kita. monas menjadi kotor dengan semak, ilalang, dan belukar yang tidak dibersihkan. tapi menjadi indah ketika semua dibersihkan.

hati kita menjadi kotor dengan dengan perasaan marah, kecewa, dendam. tapi menjadi indah ketika kita memaafkan. jadi, maafkanlah. tebang dan babat habis semua kebencian, kemarahan, dendam dalam hati dengan maaf yang tulus. butuh tekad besar. tapi saya yakin kalian pasti bisa melakukannya. i can do it. you can do it. i am sure.:)

*self reflection untuk saya sendiri, originally written on june 27, 2009* Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Monas

  1. hmm…. ternyata beda2 ya pandangan tiap orang tentang monas. Aq sendiri cuma suka monas saat malam tahun baru. Pas lagi tugas standby tahun baru, kereen dilihat dari balik kaca kantor, kembang api warna-warni *hihihi norak*.Untuk tema yg paling bawah itu, pasti akan ada gantinya yg lebih baik ^-^ keep smile sist.

  2. hihihi.. ini mas @kharismanugroho kan ya? beruntung banget deh punya kantor deket monas. bagus view kalo pas malem. ga pernah bosen liatnya. di pati ga da yg kaya gitu soalnya.. hihi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s