Tentang (ber) Jarak

~Absence sharpens love, presence strengthens it~

(Thomas Fuller)

 

Jumat kemarin, lepas tengah hari, saya dan sahabat saya bergegas menuju salah satu pusat perbelanjaan tengah kota. Jakarta yang panas dan lengas, menyambut kami tatkala kami melangkah ke luar gedung perkantoran. Hari itu kami hendak melepas penat, setelah hampir satu minggu bergulat dengan sejumlah pekerjaan, sejumlah tenggat.

***
Ada yang beberapa yang ingin terbeli oleh kami. Sepatu, sandal, makan siang yang menyenangkan. Tak apalah sesekali memanjakan diri.

***
Dalam perjalanan kembali ke kantor, langkah sahabat saya terhenti. Tepat di depan gerai penyedia layanan komunikasi seluler.
‘Sebentar ya’ ujarnya.
Saya tersenyum, mengiyakan.
‘Mau mengganti layanan nomor telepon seluler, dari pra bayar menjadi pasca bayar’ sambungnya.
Sekali lagi saya tersenyum, kembali mengiyakan.

***
Tentu bukan tanpa alasan jika sahabat saya ingin mengganti jenis layanan.
Sebentar lagi, suami terkasih, ayah dari putra tercinta, telah memutuskan untuk segera berangkat ke ujung negeri. Mengumpulkan keping rupiah yang lebih banyak. Untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecil mereka.
‘Saya membutuhkannya supaya dapat berkomunikasi secara maksimal dengan suami.’
Tuturnya terdengar lirih. Tapi cukup kuat untuk melemparkan saya ke babak usang dalam cerita kehidupan saya.

***
Menatap sahabat saya, seperti saya melihat diri saya sendiri. Saya seperti bercermin sempurna.
Saya pernah berada di posisi sahabat saya.
Beberapa waktu silam.
Menjalani hubungan berjarak.

***
Masih lekat di benak saya tentang banyak hal yang melingkupi hubungan berjarak saya dan mantan pasangan.
Saya masih mampu mengingatnya dengan sempurna..

Tentang degup cemas menanti kehadiran di bandar udara.
Tentang keengganan melepas di hari kepergian.
Tentang menabalkan perasaan kala pertemuan dibatasi oleh tenggat.
Tentang pesan pendek yang membanjiri kotak masuk.
Tentang percakapan telepon panjang lewat tengah malam.
Tentang surat-surat elektronik yang selalu saya nanti.
Tentang perbincangan di bilik maya.
Tentang surat cinta yang menghampiri loker saya.
Tentang harap, cita dan mimpi untuk terus bersama.

***
Kemudian, semua sirna di ujung senja.
Selesai.

***
Menyesalkah saya pernah menjalani hubungan berjarak dengannya?
Awalnya iya. Wajar.
Saya hanya manusia biasa.
Ada luka, kecewa pun kelelahan nan sempurna.
Pelan tapi pasti, kesadaran kecil menelisip dalam hati saya.
Bukankan pelajaran itu mahal harganya?
Dan untuk sebuah pelajaran ini saya harus membayar mahal dengan menjalani hubungan berjarak selama beberapa waktu.
Bahwa setia itu nyata.
Bahwa setia itu ada, meski tanpa tanda yang kasat mata :).

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

6 thoughts on “Tentang (ber) Jarak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s