Rindu Pati

ahhh… beberapa hari ini saya rindu pati.kota kelahiran saya. padahal baru satu minggu yang lalu, saya pulang dari pati. dan saya sudah merindukan pati lagi. kota kelahiran saya.

pati kota kecil. paling kecil dibandingkan dengan kota tetangga sekitarnya. kudus, jepara, maupun rembang. saya haru berkalikali menerangkan kepada teman di mana letak pati. ternyata sangat banyak orang yang tidak tahu bahwa pati adalah sebuah kota kabupaten, terletak di pulau jawa, di propinsi jawa tengah dan bukan ibukota dari juwana. saya senang sekali menerangkan segala hal tentang pati. sederhana. karena saya cinta pati dengan segala kebersahajaannya. * dan geng nero merusak segalanya…. aarrrrgghhhh*

****

tepatnya saya tinggal di gembong. kota kecamatan yang berbatasan dengan kota kudus, di daerah pati bagian barat. dua puluh kilometer dari pusat kota pati. berbeda dengan pati yang cukup panas, gembong terhitung dingin. ini karena pengaruh gunung muria yang memunggungi gembong. ada waduk yang dibangun pada jaman belanda di sana. ada loji yang memanjang, tumpukan batu yang tertata rapi, yang menjadi landmark gembong. seperti saya mencintai pati, saya juga mencintai gembong.

****

dan saya rindu kedua tempat itu dan banyak hal di dalamnya.

saya rindu berada di rumah, berebut remote televisi dengan fafa di ruang tengah, meskipun ada televisi di ruang yang lain.

saya rindu sambal terasi yang dibuat bapak dan sayur bening yang dimasak ibu.

saya rindu ke pasar bersama ibu, mencicipi sop paling enak sedunia buatan lek cupini.

saya rindu tidur bersama dek tutuk, fafa di satu tempat, berebut bantal dan guling, seperti laiknya anakanak bukan seperti perempuan dewasa berusia seperempat abad lebih.

saya rindu dinginnya gembong di pagi hari, yang selalu membuat bapak menambahkan selimut dan batal dan guling di atas tubuh anakanaknya… *bapak terbaik sedunia, hehehehe…*

saya rindu menonton bola bersama dek tutuk dan bapak.

saya rindu berbelanja bulanan ke surya baru bersama ibu, yang sekarang jarang sekali terjadi dilakukan, karena gerai waralaba toko serba ada sudah merambah ke gembong.

saya rindu berjalan sampai di ujung loji bersama fafa yang pemberani.

saya rindu sego gandul di depan kantor bapak, soto kemiri di depan smp delapan, alunalun tengah kota, mangut panggang dan piyapiya hangat mak wakul *yang terakhir, hanya orang asli gembong yang tahu*

saya rindu sekolahsekloah saya dulu. tk darmarini gembong, sd negeri 2 gembong, smp negeri 3 pati, sma 1 pati.

di tempat yang berada ratusan kilometer dari pati dan gembong saya merindukan semuanya…. *aarrrgghhh*

******

-dan ingatkah kamu, sepenggal cerita kita pun mengambil pati dan gembong sebagai latarnya. ada isak tertahan di terminal sleko, ada degup cemas menanti kehadiran di halte puri, ada keterkejutan ketika kali pertama kamu menikmati sego gandul di perempatan puri, ada kebahagiaan dan kehangatan yang singgah ketika kita bertiga, saya-fafa-kamu, berjalan menyusuri loji kala itu, dan ada isyarat perpisahan tak terucapkan di kamar tamu depan pagi itu. sama seperti pati yang tidak pernah mati, saya yakin kenangan kita pun tidak akan pernah mati. sama seperti pati yang tidak pernah berhenti melaju, kita pun tidak akan pernah berhenti, terus malanjutkan hidup dan melaju. meski kini bukan kita, tapi saya dan kamu-

*originally written on May 31, 2009

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

7 thoughts on “Rindu Pati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s