Tentang Saya, Si Kulit Bundar dan Kenangan Masa Kecil

~Jika sepakbola adalah agama, maka saya adalah pemeluk yang taat~

‘Nduk, ora balik tho? Balik omah, sewulan nuthug, nonton bal-balan karo bapak, koyo patang taun kepungkur’
Begitu ujar bapak di percakapan telepon panjang kami beberapa minggu kemarin.
‘I wish I could, pak’ batin saya.
Apa hendak dikata, kesibukan akan pekerjaan memenjara saya untuk tetap berada di sini, di Jakarta.

***
Ingatan saya melayang pada empat tahun silam. Saat Piala Dunia 2006. Saya menyelesaikan beberapa kontrak pekerjaan di kota Solo tepat beberapa hari sebelum Piala Dunia 2006. Jeda satu bulan sebelum mengadu nasib di belantara ibukota.
Satu bulan yang menyenangkan. Berada di rumah bersama orang-orang yang saya sayangi dan tulus menyayangi saya. Dan menyaksikan pertandingan akbar sepakbola yang selalu dinanti warga bumi. Rasanya saya sudah dapat mencium harum surga. Saya menikmati setiap detik menonton pertandingan bersama bapak, dek tutuk dan ibu (kadang-kadang). Bertukar pendapat, berdebat tentang olahraga si kulit bundar. Tentang olahraga yang kami cintai, sepakbola.

***
Semua bermula ketika usia saya masih dapat dihitung menggunakan satu tangan. Entah apa yang ada di benak bapak, sehingga beliau sering mengajak saya, si anak sulung dan perempuan, untuk menonton sepakbola di pinggir lapangan. Saya tentu tidak keberatan. Karena bagi saya sepakbola adalah keramaian. Di usia bocah saya, saya mengartikan keramaian berarti hiburan, berarti membeli jajan.
Bapak sering menggendong saya menuju lapangan tempat pertandingan. Bapak sering memangku saya sepanjang pertandingan. Tak jarang bapak menginglik (menggendong di leher) saya tatkala pertandingan ramai dengan penonton yang berjubel. Dan yang paling menyenangkan adalah bapak sering membelikan jagung bakar dan es tung-tung di kala jeda pertandingan.
Bapak sering membawa saya ke lapangan desa pinggir waduk untuk menyaksikan laga tim desa setempat, yang bernama Radola Gembong. Bapak sering membawa saya ke lapangan Pragolo untuk menyaksikan laga Persipa, yang kemudian membuat saya mengenal seorang legenda yang bernama Ribut Waidi. Bapak juga sering membawa saya ke lapangan Trangkil dan Bakaran untuk menyaksikan tim-yang-entah-saya-lupa-namanya.
Sungguh awalnya saya bosan menyaksikan pertandingan si kulit bundar. Awalnya saya bertahan hanya demi jagung bakar dan es tung-tung. Awalnya saya sering merengek meminta pulang setelah ritual-jagung bakar-es tung tung selesai (yang mana selalu dituruti bapak). Awalnya saya beranggapan bahwa sepakbola ada olahraga yang sama sekali tidak menarik untuk diikuti, apa menariknya satu bola direbut sekian puluh pemain, apa menariknya menyaksikan sekian puluh orang berlari kesana kemari demi sebuah bola dan sebuah gol. Awalnya saya malas mendengarkan penjelasan bapak tentang heng (handsball), ofset (off side), ornol (corner), penyerang, gelandang, libero dan entahlah apa lagi.
Mungkin karena faktor kebiasaan, mungkin juga karena faktor kesabaran bapak, atau mungkin faktor ‘kutukan alam’, akhirnya perlahan-lahan saya menyukai sepakbola.

***
Saya masih mengingat benar Piala Dunia pertama yang saya ikuti adalah Piala Dunia 1990. Diego Armando Maradonna adalah dewa kala itu. Gol tangan Tuhan senantiasa dibicarakan bapak dan juga dunia berhari-hari, mungkin pula berminggu minggu kemudian.
Final Piala Dunia 1994 dilaksanakan tepat di hari pertama saya memasuki bangku sekolah menengah pertama. Kala itu sangat sulit untuk tidak membicarakan gelandang nan ciamik Roberto Donadoni, yang selalu membuat saya terkesima dengan aksi menggiring bola dari segala sisi lapangan. Saya menggilainya waktu itu.
Dan begitulah dalam perjalanan saya mencintai sepakbola, saya kemudian menggilai sejumlah pemain. Dari sekian banyak mungkin Zinedine Zidane adalah idola saya sepanjang masa. Lupakan aksi spektakulernya kala menanduk Marco Matterazzi di final Piala Dunia 2006.
Jika sebagian kaum saya mengagumi sosok pesebakbola karena wajah tampan nan rupawan dan postur tubuh yang tegap nan sempurna, maka saya akan mengagumi pesepakbola karena teknik dan kemampuannya menggocek si kulit bundar. Dan di diri seorang Zinedine Zidane saya temukan semuanya. Oh ya, jangan lupangan tendangan pisangnya yang aduhai itu 😉

***
Tentu saja sebagai pemeluk agama ‘sepakbola’ yang taat, saya juga menjalankan sejumlah ritual. Menonton pertandingan, baik di liga domestik, liga antar negara, pertandingan apapun adalah wajib hukumnya. Membaca segala informasi tentang sepakbola juga tak boleh terlewatkan. Bahkan kala saya masih duduk di bangku menengah atas, saya merelakan tidak membeli makanan kala rehat demi dapat membeli tabloid khusus olahraga yang terbit 2 kali seminggu, selasa dan jumat, kala itu. Memborong aksesoris tentang tim dan pemain kesayangan juga terlalu sayang untuk dilewatkan. Saya memilih jurusan tempat saya berkuliah pun dengan pertimbangan yang cukup sederhana. Suatu saat kelak saya ingin mengunjungi Old Trafford dimana Eric Cantona pernah berlaga di sana. Dan terdamparlah saya di jurusan tersebut. Sungguh pemikiran yang sangat naif. Benarkan saya seorang pemeluk agama yang taat? Hihihi :D.

***
Bahwa kemudian saya menyadari bahwa kehidupan itu layaknya pertandingan sepakbola.
Ada banyak usaha yang harus kita lakukan demi sebuah tujuan.
Ada kalanya kita menang, kalah bahkan seri
Ada kalanya kita bertahan, menyerang, pula memaksimalkan jeda.
Ada pelajaran tentang legowo menerima kekalahan, tak pula sombong dengan kemenangan, juga upaya perbaikan tatkala ditahan imbang.
Ada pelajaran tentang mengatur strategi, mengeksekusi dalam bentuk percobaan, pula berjuang sampai akhir.
Simply, I take them as lessons of my life :).

ps: tetap berharap suatu hari kelak, Indonesia dapat berlaga di ajang berjuluk Piala Dunia. Entah kapan..

**attribute to bapak, yang memperkenalkan saya pada olahraga yang indah ini.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

11 thoughts on “Tentang Saya, Si Kulit Bundar dan Kenangan Masa Kecil

  1. Hah???Radola Gembong..Tim favoritku waktu masih SD.Pasti nonton tiap ada turnamen di Pragola.Masih inget juga PTDI Pati jadi sponsornya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s