Tentang Mimpi Yang Tak (Sanggup) Terbeli

Kali ini dongeng tentang Jakarta. Tempat saya dan jutaan penduduk negeri mengadu nasib, berjudi dengan peruntungan, mengumpulkan lembar demi lembar rupiah dan bertahan.
Jakarta yang gemerlap dengan lampu kota. Jakarta dengan sekian ratus gedung penggaruk langit. Jakarta dengan ribuan tempat untuk memanjakan segala indera. Jakarta yang menawarkan apa saja. Dan, Jakarta yang membius siapa saja untuk datang dan mematri mimpi di puncak tertinggi.

***
Dengan segala pesona yang dimilikinya, Jakarta mampu menghipnotis kedua orang tua Basir untuk menyambanginya, beberapa tahun silam. Meninggalkan tanah kelahiran, Aceh, dengan pengharapan yang menjulang tinggi. Setinggi gedung penggaruk langit di sepanjang Sudirman. Pengharapan tentang perbaikan ekonomi, tentang masa depan buah hati, tentang kehidupan yang lebih baik.
Apa lacur. Jakarta ternyata bagai pisau bermata dua. Menjanjikan kenyamanan, juga menjanjikan kehancuran.

***
Adalah Basir, bocah kecil berusia 11 tahun, yang menjadi saksi bisu kekejaman Jakarta. Basir merupakan putra kedua, dari empat bersaudara pasangan perantau Hadi Akbar dan Sri Sariah. Mereka mendiami sebuah ‘rumah’ berukuran kecil di daerah Pasar Minggu, selatan Jakarta. Pekerjaan serabutan sang bunda dan sang ayah ternyata tidak mampu membiayai sekolah Basir. Ah jangankan untuk sekolah, untuk makan saja terasa berat. Basir yang pandai, merasa berkewajiban membantu orang tua. Melakukan pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup. Impian untuk terus bersekolah dan menjadi polisi terus membayangi benak Basir kecil. Hanya dua kelas yang sempat dianyamnya. Kemelaratan menghempaskan segenap mimpinya untuk tetap bersekolah.
Entahlah. Mungkin Basir merasa lelah. Mungkin Basir merasa kalah. Malam itu dalam gelap, diserahkannya segenap mimpi untuk bersekolah di seutas tali. Basir ditemukan tewas gantung diri oleh sang bunda. Basir pergi membawa sebuah mimpi yang cukup sederhana. Bersekolah.

***
Sesudahnya berita tentang Basir dan mimpinya banyak dilansir berbagai media. Sungguh ini adalah ironi. Di tempat yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat negeri, seorang bocah meregang nyawa karena himpitan kemiskinan. Entahlah tiba-tiba kesedihan memeluk saya. Sebuah pekerjaan rumah besar menanti negeri ini. Secepatnya. Menyelamatkan Basir-Basir yang lain, sebelum mimpi bersekolah harus tergantung di seutas tali.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s