Kedai Untuk Kopi Kedua

Sengaja. Senja kali ini saya menjejakkan kaki di tempat ini. Rasanya telah berbulan, bahkan bertahun saya tidak pernah singgah di tempat ini. Di sini. Kedai kopi sederhana tengah kota.


Entahlah. Setelah sekian waktu berlalu, kedai kopi ini telah menjelma menjadi hantu. Saya takut. Takut akan sesuatu yang abstrak. Yang tak berbentuk. Yang tak terlihat. Tapi terasakan. Benar seperti hantu. Hantu yang bernama kenangan. Tentang saya dan kamu.


Dan senja ini saya kembali di sini. Duduk di sudut kesukaan kita berdua. Di sudut dekat tempat cangkir cangkir diisi cairan hitam. Di sudut bau kopi, kata saya. Di sudut di bawah kipas angin tua, yang memaksakan diri berderit demi mengalirkan dingin kepada kita. Di sudut yang hanya berkursi dua.


Kali ini kursi di depan saya kosong. Tak ada kamu. Saya menghela napas. Kemudian merutuk. Harusnya saya telah terbiasa dengan perasaan hampa yang menyergap. Perasaan kosong yang menerjang. Perasaan sakit yang menjalar. Bukankah ini sudah cukup lama? Saya menggigit ujung bibir. Mata saya berkabut mengingat fragmen-fragmen pendek di kedai kopi ini.


Seorang pelayan datang menghampiri. Mengulurkan daftar menu. Ingin rasanya berteriak kepada pelayan bahwa tidak perlu lah membawakan saya daftar menu. Saya masih bisa dengan jelas mengingat daftar menu di sini. Kebiasaan kita menghabiskan pagi akhir pekan dan senja hari kerja memudahkan saya mengingat daftar menu yang tidak terlampau panjang itu. Juga menu favorit kamu.
Pelayan bertanya sopan. ‘Mbak mau pesan apa?’. Saya menjawab ‘kopi hitam dan roti panggang isi selai sarikaya tabur keju’. Pelayan mencatat sejenak kemudian beranjak. Hanya ingin mengingatkan yang baru saja saya pesan adalah menu yang sama persis seperti terakhir kali kita datang ke tempat ini. Terakhir kali kita bertemu.


Awalnya saya mengenal kamu sebagai teman minum kopi yang menyenangkan. Kamu seperti siomay hangat di pagi hari. Selalu membangkitkan gairah. Kamu seperti roti panggang isi selai sarikaya tabur keju. Ringan dan berisi. Kamu bahkan seperti surat kabar akhir pekan. Inspiratif dan penuh kejutan. Dan bahwa rasa bukan ilmu eksakta. Perlahan, kamu menjelma menjadi kopi dalam kehidupan saya. Saya mulai mencandumu.


‘Kenapa kamu begitu menggilai kopi, Ti?’. Tanya kamu. Saat pertama saya mengajakmu ke kedai kopi ini.
‘Kombinasi yang cukup menarik. Gadis lembut, penyuka kopi pekat.’ Kamu melanjutkan menginterogasi saya. Saya tersenyum.
‘Seandainya kamu merokok saat ini, maka saya akan membawa kamu ke terminal sebelah timur kota. Preman terminal ter-ayu yang pernah ada.’
Saya tertawa. Lepas. Saya selalu menggemari humor kamu yang terkadang tidak biasa itu.
Kemudian kamu dengan khusyuk mendengarkan hubungan batin saya dengan kopi. Tentang kopi, kakek dan nenek saya, juga cinta mereka yang tersaji dalam secangkir besar kopi di tiap Magrib nya. Kamu mendengarkan saya. Tanpa menyela. Itu lah kali pertama saya merasa ada belasan, bahkan ratusan kupu-kupu cantik berterbangan di perut saya.
Di akhir cerita, kamu hanya berseloroh ‘Kok isooooo?’. Menggoda dengan mata jenaka dan mimik nakalmu itu. Kamu lucu sekali senja itu.


Sudah bisa ditebak. Hari-hari selanjutnya adalah pertemuan, ritual kopi pagi dan kopi senja, diskusi ringan, bercerita, berjalan-jalan melewati lorong kota dan lorong waktu, tertawa dan bahagia. Kopi dan kamu adalah pasangan candu tiada dua. Dua musim saya mendekap erat bahagia tanpa cela. Bahagia yang sempurna.
Bahwa saya lupa. Ya saya benar-benar lupa akan pameo bahwa bahagia itu kadang menakutkan. Karena bahagia tidak pernah abadi. Karena tidak ada yang benar-benar abadi di muka bumi.
Dan ketidakabadian bahagia saya bersamamu dimulai di penghujung tahun yang basah itu.


Sebuah pesen pendek menghampiri kotak masuk saya senja itu. Dari My Coffee. Itu kamu, Fa.
‘Temui saya di kedai kopi. Sekarang juga. Penting’
Saya terkejut. Sungguh itu tidak biasa. Kebiasaan kamu setiap kali mengajak saya ke kedai itu adalah kamu akan menelpon saya terlebih dahulu. Menjemput saya di kantor. Bermobil bertiga, dengan seorang joki 3-1 di bangku tengah. Kamu selalu mencela kantor saya yang berada di tengah kota itu. ‘Repot deh.. Mau jemput pacar aja pake satpam. Ga asik’. Kamu mengomel. Bukan galak, tapi malah membuat saya tergelak. Kamu seratus kali lebih tampan dengan omelanmu itu.
Tapi senja itu semua berubah. Tak ada lagi telpon hangat. Tak ada lagi kamu yang menjemput. Tak ada lagi omelan khas kamu. Saya mencoba berprasangka baik. Mungkin kamu bosan dengan ritual kopi senja kita. Mungkin kamu menginginkan sesuatu yang lain. Mungkin kamu ingin memberikan kejutan kepada saya.


Saya melangkah memasuki kedai kopi itu. Di luar saya melihat mobil kamu telah terparkir rapi. Saya melihat kamu di pojok favorit kita. Dan kamu pun telah memesan dua cangkir kopi hitam dan roti panggang isi selai sarikaya tabur keju. Menu favorit kita. Yang entahlah, kali ini tidak begitu menggoda.
Dan benar kamu memberikan saya kejutan.
Kejutan tak menyenangkan.
Sepucuk undangan berwarna coklat muda pematiknya. Kamu memberi saya undangan berdesign sederhana nan elegan itu. Saya mungkin tidak akan terkejut seandainya bukan nama kamu yang tercetak di bagian mempelai pria.
‘Fa, kamu akan menikah dua hari lagi ya?’ Tanya saya. Memastikan.
Kamu tidak menjawab. Anggukan kecil itu berarti kiamat bagi hubungan kita. Saya sakauw seketika. Penjelasan kamu tentang calon istri kamu, alasan menikahinya, pengakuan perselingkuhanmu, permohonan maafmu, berlalu begitu saya. Susah payah saya mengulum kepahitan itu, mencernanya sedikit-sedikit, sehingga otak saya bisa menerima segala penjelasan kamu. Tapi tidak hati saya. Lebur. Lantak.
Dan saya memilih lenyap kemudian lesap dari kehidupan kamu. Terus berusaha berjuang mengobati luka dalam tentang kamu. Terus berusaha. Sendiri. Seorang diri.


Sampai hari ini. Saya memberanikan diri datang ke kedai ini untuk sebuah alasan.
Sebuah pesan pendek mendatangi telepon genggam saya.
Dari ‘Another Coffee’
‘Bella, I’m flying to be yours. Sudah siap midodareni nanti malam kan?’
Dengan cepat saya mengetik.
‘Siap dong. Can’t wait to see my prince charming :)’
Send.


Fa, besok saya akan menikah. Setelah bertahun mengobati luka sendiri. Senja ini saya datang ke kedai kopi ini sendiri. Saya ingin mengemasi segala kenangan tentang kamu dan berpamitan sebelum saya melangkah menuju gerbang kehidupan baru.
Kedai kopi ini adalah titik nol. Titik akhir untuk hubungan saya dan kamu. Titik awal untuk hubungan saya dan calon suami saya.
Sekali lagi, saya akan menikah Fa. Besok. Kemudian, do’akan saya beruntung ya, Fa..

*cerpen pertama saya. Sebagian tokoh, kejadian dan tempat adalah nonfiksi. Hihihihi :))

Powered by Telkomsel BlackBerryยฎ

Advertisements

10 thoughts on “Kedai Untuk Kopi Kedua

  1. “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s