Kado Kepagian

Akhir 2007,

(Email)
Saya: Kamu bisa membantu saya? Saya mau liburan ke Yogja bersama saudara. Minta tolong ya, booking kamar hotel untuk kami berdua.
Kamu: Baiklah. Kamu dari Jakarta hari apa? Jam berapa? Sekalian saya jemput ya?

(Stasiun Tugu)

Saya: Thanks ya sudah mau menjemput saya malam-malam gini.
Kamu: Nevermind. Langsung ke hotel ya.
Saya: Okay.
Kamu: Pacar kamu apa kabarnya, San?
Saya: Baik.

(Hotel)
Kamu: Kamar sudah saya pesenin. Tinggal check in saja. Saya pamit ya. Kalau butuh apa-apa telepon saya saja ya. Jangan sungkan.
Saya: Terima kasih.

(Pesan pendek)
Kamu: Mau dibawain apa?
Saya: Martabak kayaknya enak deh.

(Angkringan Tugu)
Saya: Saya selalu menyukai Yogja. Entahlah. Yogja itu selalu indah.
Kamu: Benar. Yogja selalu indah. Terlebih ada kamu.
Saya:……

Maret 2008,

(CoffeeShop, jalan Kaliurang, Jogja)
Saya: Kenalkan ini pacar saya.
Kamu: Oh iya..
Dia: Saya minta kamu tidak usah lagi menghubungi Santi. Kami berdua sedang berhubungan serius.

(Pesan pendek)
Saya: Maaf ya untuk yang tadi siang. Sungguh saya tidak bermaksud demikian.
Kamu: Tidak apa-apa. Saya mengerti kok.
Saya: Kamu marah?
Kamu: Sudahlah tidak usah dipikirkan.
Saya: Masih mau berteman dengan saya?
Kamu: Tentu masih. Saya sayang kamu.
Saya:….

Mei 2008,

(Rumah Saya)
Kamu: Maaf ya tidak membawa kepiting. Di pasar tadi tidak ada.
Saya: Duh ini saja sudah banyak. Cumi dan kue-kue ini. Saya ini selalu merepotkan ya.
Kamu: Nggak lah, San.
Saya: Terima kasih banyak ya.
Kamu: Pacar kamu kapan datang?
Saya: Besok. Mungkin.
Kamu: oooooooo
Saya: Entahlah.
Kamu: Saya pamit.
Saya: Once again, thanks ya.

November 2008,

(Telepon)
Kamu: Saya menelpon kamu untuk ngasih tahu kamu berita besar.
Saya: Berita besar? Berita apaan? Bikin penasaran ih.
Kamu: Saya dipindahtugaskan ke kantor pusat Jakarta.
Saya: Hah.. Kamu pindah ke Jakarta?
Kamu: Iya.
Saya: Dalam rangka apa?
Kamu: Dalam rangka pengen dekat saja sama kamu.
Saya:….
Kamu: Hahaha. Jangan dianggap serius lah. Lagian kamu kan sudah mau menikah ini. Mana berani saya gangguin kamu.
Saya: Hehe.
Kamu: Mau dibawakan apa dari Jogja?
Saya: Maunya sih banyak. Bakpia keju, keripik paru, lanting bawang.
Tapi terserah yang mau ngebawain sih.

Akhir November 2008,

(Pasaraya Grande, Melawai)
Kamu: Ini oleh oleh pesanan kamu.
Saya: Hah banyak banget sih. Thanks ya.
Kamu: That’s my pleasure.

(Email)
Saya: Entah kenapa, saya pengen banget ke Kebun Raya Bogor.
Kamu: Mau saya anterin?
Saya: Mau banget..

(Kebun Raya Bogor)
Saya: Akhir-akhir ini saya sedang banyak masalah. Makanya saya pengen refreshing. Nyari hawa seger. Kayak di sini.
Kamu: Masalah apa? Kerjaan atau pacar?
Saya: Eeemmm…
Kamu: Pacar ya?
Saya: Could we change the topic, please?
Kamu: Baiklah.
Saya: Terima kasih ya sudah menemani saya naik kereta, ke Bogor, makan soto kuning, mencicipi es krim, berkeliling Kebun Raya, membuat saya tertawa.
Kamu: Nevermind.

December 2008,

(Pesan pendek)
Saya: Saya putus. Pacar saya akan menikah dengan mantan pacarnya akhir bulan ini. Rasanya sakit sekali. Seperti mau mati saja saya.
Kamu: Baik-baik ya di sana. Tenang dulu. Pulang kantor saya langsung ke kost.
Saya: Bukankah daerah selatan selalu macet saat pulang kantor?
Kamu: Tidak apa-apa. Tunggu saya di kost kamu ya.

(Kost Saya)
Kamu: Kamu makan dulu ya..
Saya: Sedang tidak pengen.
Kamu: Kamu seharian tidak makan. Menangis seharian. Nanti kamu sakit.
Saya: Saya toh sudah sakit. Hati saya.

(Kafe-Yang-Saya-Lupa-Namanya)
Kamu: Sudah ya.. Jangan menangis lagi. Beberapa hari telah berlalu. Kamu toh baik-baik saja tanpa dia.
Saya: Iya.
Kamu: Wajah kamu sendu sekali, San. Tapi masih tetap cantik.
Saya: Gombal kamu.
Kamu: Senang bisa melihatmu tersenyum lagi, San.
Saya: Terima kasih ya untuk selalu menguatkan saya.

(Grapari Slipi)
Saya: Pokoknya saya harus mengganti nomer hape.
Kamu: Iya saya tahu.
Saya: Saya tidak mau berhubungan apapun bentuknya dengannya.
Kamu: Iya saya tahu.
Saya: Terlalu menyakitkan.

(Pantai Ancol)
Saya: Kenapa ya dia tega sekali sama saya?
Kamu: Things change, San.
Saya: Salah saya apa ya?
Kamu: Sudah jangan diingat-ingat lagi ya.
Saya: Sepertinya setia saya dibalas dengan tuba ya.
Kamu: Kamu toh sudah berusaha sebaik mungkin. Masalah hasil itu hak Tuhan.
Saya:….
Kamu: Sudah ya. Jangan menangis lagi.

(A&W Ancol)
Kamu: Kamu pengen makan apa?
Saya: Burger saja.
Kamu: Nggak pengen makan nasi?
Saya: Nggak.
Kamu: Ya sudah, saya pesan dulu ya.
Saya: Terima kasih.
…..
Kamu: Kok burgernya ga dihabiskan? Masih banyak lagi.
Saya: Saya teringat dia.
Kamu: Time heals, Santi.
Saya:….
Kamu: Kok menangis lagi?

(Roti Bakar Edy, Blok M)
Saya: I’m getting better kan ya.
Kamu: You are.
Saya: Ramai banget ya di sini.
Kamu: Lha namanya juga malam Minggu.
Saya: Oh saya lupa.
Kamu: Kamu tahu San?
Saya: Apa?
Kamu: Selama hampir 2 tahun saya memendam mimpi.
Saya: Tentang apa?
Kamu: Menghabiskan malam Minggu bersama kamu.
Saya:…..

(Roti Panggang Parahyangan)
Saya: Maaf ya saya belum bisa.
Kamu: Ya saya tahu.
Saya: Saya benar-benar belum bisa. Tolong jangan paksa saya.
Kamu: Saya akan menunggu.
Saya: Saya tidak bisa menjanjikan apapun. Ini tentang rasa. Tidak bisa dipaksa.
Kamu: Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menunggu.
Saya: Sampai kapan?
Kamu: Entahlah. Sampai saya bosan menunggu.
Saya: Terima kasih ya. Kamu sahabat terbaik saya.

Januari 2009,

(Kost Saya)
Saya: Saya ingin berada di rumah saat ulang tahun. Saya ingin berada bersama orang-orang yang menyayangi saya tulus. Dan selalu menguatkan saya.
Kamu: Baiklah. Sampai ketemu di rumah ya..
Saya: Kamu juga hendak pulang.
Kamu: Ya.
Saya:….

(Rumah Saya)
Kamu: Selamat ulang tahun ya.
Saya: Terima kasih. Untuk kue ulang tahunnya, kado istimewanya, dan kehadiran kamu tentunya.
Kamu: Sama-sama.
Saya:…
Kamu: Saya sayang kamu.
Saya: I wish I could say the same.

Pertengahan 2009,

(Email)
Kamu: Kamu ke mana saja sih, San? Baik-baik saja kan?
Saya:…..

(Telepon)
Kamu: -panggilan tak dijawab 5 kali-
Saya:….

(Pesan pendek)
Kamu: San, kamu baik-baik saja kan? Kamu berubah. Saya melakukan salah apa? Maaf jika demikian.
Saya:….

Awal 2010,

(Pesan pendek)
Saya: Bisa ketemu? Saya sedang di dekat kantor kamu.
Kamu: Baik. Ketemu di tempat kita makan bakso yang dulu ya.
Saya: I’ll be waiting.

(Bakso Malang Karapitan, Mall Ciputra)
Saya: Saya mau minta maaf dan menjelaskan banyak hal.
Kamu: Untuk apa?
Saya: Untuk tiba-tiba menjauh dari kamu.
Kamu: Kamu tak perlu minta maaf. Kamu tidak bersalah.
Saya: Tapi setidaknya akan ada penjelasan untuk itu.
Kamu: Silahkan
Saya: Saya memang menjaga jarak denganmu. Saya ingin kamu berbahagia tanpa harus menunggu saya lebih lama. Sungguh, kamu layak bahagia.
Kamu: Saya sudah menduga.
Saya: Saya ingin pertemanan yang mungkin lebih terdengar ringan.
Kamu: Baiklah.
Saya: Terima kasih.

Mei 2010,

(Email)
Kamu: Kamu ada nomer telepon Nusantara, San?
Saya: Ada. Mau pulang ya? Kapan?
Kamu: Iya, minggu ini.
Saya: Ada urusan apa? Mau lamaran ya?
Kamu: Bukan saya. Tapi adik saya. Saya sudah melamar gadis bulan kemarin.
Saya: Wah selamat ya calon pengantin. Saya berbahagia untuk kamu.

(Bilik Maya)
Saya: Jadi nikahnya kapan?
Kamu: Beberapa bulan lagi.
Saya: Kamu nggak sopan ya melangkahi saya.
Kamu: Habis kamu diajak ga pernah mau sih.
Saya:….
Kamu:….
Saya: Calon istri kamu cantik ya?
Kamu: Mirip kamu.
Saya: Hihihi.
Kamu: Jadi kapan kamu mau menyusul?
Saya: Aahhh menopouse masih jauh ini.
Kamu: Kamu tuh ya nggak pernah berubah. Suka asal.
Saya: Ya saya nggak mungkin berubah lah. Saya bukan Ksatria Baja Hitam, bukan pula Sailor Moon.
Kamu: Hahahaha…
Saya: Hihihihi…

Untuk kamu yang akan segera menggenapkan separuh agama; terima kasih untuk pernah menyayangi saya tanpa pamrih, terima kasih untuk persahabatan yang tulus, terima kasih untuk menghargai setiap keputusan saya.
Pada akhirnya, ketidaksediaan saya merupakan kado kepagian untuk kebahagiaan kamu selanjutnya..
Selamat menempuh hidup baru. Bahagia selamanya :).

Powered by Telkomsel BlackBerryยฎ

Advertisements

12 thoughts on “Kado Kepagian

  1. waw… kirain cerpen..*menghela napas*kata orang : “menikah itu dengan orang yg kita cintai bukan dengan orang yg mencintai kita”salut buat beliau… semoga bahagia ๐Ÿ™‚

  2. salam mbak Santi :-)cerita ini mengingatkan saya pada sahabat saya, dia juga begitu menjadi sahabat tanpa pamrih meski saya tidak bersedia mnjadi kekasihnya dia tetap baik dan masih menjadi sahabat saya smpai sekarang ๐Ÿ™‚

  3. hai kamu adeknya kaka kiyut :D.ya iya lah dirimu tau, secara…duh perang batin nih kaka kiyut. dateng ga ya? bisa-bisa ntar mringis di pojokan lagiiiii ๐Ÿ˜€

  4. Mbak, sy melakukan hal yg sama persis dgn mba. Bedanya sy sempet menerima cinta nya. Tp akhirnya sy melepaskannya. Lega karena ternyata sy mempunyai teman yg senasib sepenanggungan.. Gk merasa bodoh sendiri… Smgt yah mba ๐Ÿ™‚

  5. Mbak, sy melakukan hal yg sama persis dgn mba. Bedanya sy sempet menerima cinta nya. Tp akhirnya sy melepaskannya. Lega karena ternyata sy mempunyai teman yg senasib sepenanggungan.. Gk merasa bodoh sendiri… Smgt yah mba ๐Ÿ™‚ tomorrow will be better

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s