Sekali Lagi Tentang Hati

Senja berdetak melambat di ruang luas ini. Ratusan manusia hilir mudik, bergerak dalam segala ketergesaan. Sedikit bangku panjang yang penuh terisi. Seorang anak kecil meringkuk hangat di balik dekapan ibunda. Mereka duduk tepat di hadapan saya. Saya tersenyum. Ibu muda itu pun tersenyum membalas. Burung besi yang riuh terbang rendah. Langit bersemburat merah. Wangi basah sisa hujan masih erat menempel di hidung saya. Sempurna.

***
Dan senja ini saya kembali ke tempat ini. Tempat yang sama. Masih sama. Selasar yang tak pernah sepi. Suara lantai beradu dengan decitan berbagai alas kaki. Dan tentu saja, bangku panjang itu. Bangku yang mungkin pernah mendengar gelisah saya. Sekian puluh purnama silam. Saya tersenyum.

***

Saya melirik sekilas jam di pergelangan tangan kiri. Masih lama, batin saya. Kebimbangan pun teretas.

Haruskah saya melangkahkan kaki ke tempat itu.
Harus, sebagian hati saya berbisik. Jangan, sebagian hati saya memberontak.
Harus, buktikan kamu baik-baik saja.
Jangan, itu sama saja membuka luka lama.
Harus, berdamailah dengan masa lalu.
Jangan, belum saatnya.
Harus..
Jangan..
Dan saya tahu, semesta membawa saya pada sebuah keputusan.

***
Langkah gontai saya terhenti di gerai warung makan cepat saji di sudut terminal ini. Memesan paket nasi dan ayam goreng.
‘Minumnya apa, kak?’ Kasir cantik di hadapan saya bertanya. Menyadarkan saya dari hempasan lorong waktu.
‘Es teh lemon saja, mbak’. Saya menjawab cepat, membuka dompet, mengulurkan lembar biru, dan beranjak ke sudut pojok lantai dua di rumah makan ini.

***
Saya selalu menyukai sudut rumah makan ini. Bukan rumah makan dengan panganan yang senantiasa dipergunjingkan pecinta kuliner. Hanya sebuah rumah makan cepat saji, dengan gerai yang mungkin memenuhi penjuru negeri.
Angin senja lembut menampar wajah saja. Burung besi terbang rendah, untuk kemudian meninggi. Angin, burung besi, langit biru adalah paket sempurna untuk saya. Itulah kenapa saya menyukainya. Dan jika ditambah kamu, maka paket saya tak hanya sempurna, tapi mendekati nirwana.

***
‘Nggak nyangka beneran, kamu bakal dateng’ – saya.
‘Haha, sayaa senang membuat kejutan’ – kamu.
‘Beneran deh.. Tadi dari rumah kepikiran yang pulang ya dia aja. Tanpa kamu’ – saya.
‘Jadi nggak boleh nih saya di sini? Harus balik gitu? – kamu.
‘Jangan’ – saya.
Saya berujar lirih. Menunduk. Menahan lelehan hangat di mata saya. Tak lama berselang, sepasang jemari kuat mengunci jemari saya.
‘Saya sayang kamu. Karenanya saya ada di sini’. Pemilik sepasang jemari berujar. Kamu.

***
‘Rasanya malas sekali kembali ke timur.’ -kamu.
‘Hei, demi masa depan kita.’ -saya.
‘Kamu yakin?’ -kamu.
‘Yakin. Untuk kebaikan semuanya. Saya, kamu dan keluarga.’ -saya.
‘Terima kasih untuk telah mengerti saya.’ -kamu.
‘Baik-baik ya di sana’ -saya.
‘Saya pasti kembali. Tunggu saya di sini ya.’ -saya.
‘Pasti’ -saya.
Saya berucap lirih. Sepasang jemari kuat mengunci jemari saya. Erat. Membawanya ke ujung bibir. Mengecup pelan. Dan terisak. Isakan perlahan kamu, yang menular pada saya, yang membawa kita pada suatu titik sombong dan beku. Bernama perpisahan.

***
‘Mbak, kursinya dipakai?’ Seorang laki-laki muda bertanya sopan kepada saya. Membuyarkan lamunan akan ingatan saya.
‘Oh tidak, pak. Silahkan dipakai saja’ saya menjawab perlahan. Menyadarkan saya bahwa saya berada di tempat keramat ini sendirian. Tanpa kamu.
Laki-laki itu kemudian mengangkat kursi tersebut, berucap terima kasih dan berlalu. Dari ekor mata saya, saya bisa melihat laki-laki tersebut datang bersama seorang perumpuan dewasa dan tiga bocah perempuan. Keluarga kecil nampaknya.

***
‘Duh, saya laper nih. Flight masih lama. Makan dulu yuk.’ -teman saya.
‘Ah nggak deh. Masih kenyang.’ -saya.
‘Temenin aja deh. Kamu nggak makan nggak papa. Minum aja ya.. ‘ – teman saya.
‘Nggak deh. Kalo kamu mau makan, makan saja. Saya tunggu di sini ya. -saya.
‘Ih kamu tega ya. Makan sendirian kan cengoh gitu’ -teman saya.
‘I don’t have any choice’ -saya.
Menyadari kekeraskepalaan saya, teman saya beranjak sendirin. Menginggalkan saya duduk termangu sendiri di ruang tunggu.

***
‘Sampe kapan kamu terus seperti itu? -teman saya.
‘Nggak tau’ -saya.
‘Bukan memendam kebencian itu melelahkan?’ -teman saya.
‘Benar’ -saya.
‘Kamu membenci bukan hanya dia, tapi juga semua hal yang mengingatkan kamu tentang dia?’ -teman saya.
‘Entah. Kamu nggak tau gimana perasaan saya. Sakitnya saya’ -saya.
‘Neng, semua orang pernah patah hati kali. Lagian ya, jatuh cinta sama patah hati mah udah satu paket. Kayak siang sama malam aja. Cuman ya, orang suka lupa aja kalo lagi jatuh cinta. Then shit happens. Baru deh sadar. Kayak kamu sekarang.’ -teman saya.
‘Time heals kan? Kalo sekarang masih sakit, ya kali bakal sembuh. 100 taun lagi, 1000 taun lagi. Who knows?’ -saya.
‘Percaya deh kalo kamu masih nganggep kenangan dan segala tetek bengek tentang itu sebagai beban, ya selamanya akan memberatkan kamu. Ujung-ujungnya ya malah kamu sendiri yang tersiksa. -teman saya.
‘Ada benernya sih. I’m still trying’ -saya.
‘Gile aje, udah setahun lewat dan kamu masih masih mencoba? Halooo kamu kemana aja selama ini, neng? Udah stop it, move on. Ikhlasin aja. Lebih enteng. And good things soons will come to you. Trust me. -teman saya.
Klik. Telepon dimatikan. Menginggalkan saya melebur dalam hening. Meresapi percakapan barusan.

***
Saya menyelesaikan acara makan sore saat jarum di salah satu sudut ruang menunjuk angka lima dan dua belas. Mencuci tangan dan bergegas pergi. Saat hendak beranjak, saya pandangi sekali lagi tempat saya duduk. Tempat yang sama saat saya menunggu kedatanganmu dan saat saya mengantar kepergianmu. Saya menghela nafas. Ringan. Tak ada kedukaan berkepanjangan. Tak ada tangis kelaraan. Tersenyum sekilas dan beranjak. Dan entahlah tempat ini terasa lebih indah dan lebih hangat. Senja ini saya belajar sesuatu. Tentang keikhlasan dan pelepasan.

…Jejak langkah yang kau tinggal, mendewasakan hatiku.
Jejak langkah yang kau tinggal, tak kan pernah hilang slalu…
(Jejak Langkah Yang Kau Tinggal~Tohpati&Glenn Fredly)

*070910, catatan pendek di sebuah boarding gate
**pinjem gambar dari bp.blogspot.com

Advertisements

4 thoughts on “Sekali Lagi Tentang Hati

  1. jatuh cinta sama patah hati itu ibarat kueh lapis yang dilekatkan sama selai stroberi biarpun saling berpunggungan tapi deket banget ….*menunggu cerpen selanjutnya* πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s