Bahagiamu, Bahagiaku Pasti*

Sore di beberapa hari kemarin. Saya membuka kembali laman jaringan perkawanan nomor wahid di jagad ini. Sudah lama sekali saya tak mengunjunginya. Mungkin saja saya bosan.
Tapi entahlah sore itu berbeda.

Dan hhhhhaappp……

Dalam hitungan detik saya telah berkelana di jejaring perkawanan maya tersebut. Membaca status teman-teman saya, melihat foto-foto bahagia terbaru, membaca perubahan status hubungan beberapa teman. Cukup meyenangkan.
Dan tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah foto profil seorang teman.

***

Sepasang pengantin dengan pelaminan berlatar hijau limun. Tersenyum manis. Rona bahagia yang tak berhasil disembunyikan terbias dari wajah kedua mempelai.
Saya tersenyum. Sebentar lalu mengumpulkan ingatan yang berserak. Saya mengenal cukup baik mempelai pria berbeskap hijau tersebut.

***

Saya biasa memanggilnya mas Anto. Insinyur muda lulusan sekolah terbaik negeri ini. Beberapa angkatan di atas saya. Bekerja di perusahaan perminyakan yang menjanjikan pundi-pundi dollar yang gendut. Seorang Jawa yang berjiwa Jawa sekali.
Serakan ingatan saya masih cukup detail ternyata. Perkawanan saya dengannya selama sekian tahun ternyata masih berjejak di sebagian ruang otak saya.

***

Saya mengenalnya sekian tahun yang lalu. Kala itu saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, yang kelak mencampakkan saya. Tiba-tiba mas Anto datang dalam kehidupan saya. Saya lupa berawal dari mana perkawanan itu. Yang saya ingat benar adalah tentang kantor kami yang bertetangga, surat elektronik yang silih berganti memenuhi kotak masuk kami, janji untuk sekedar menikmati kopi dan sore, telepon-telepon panjang, pesan-pesan pendek yang terkadang tak cukup penting, undangan makan siang, menonton Uber dan Thomas Cup langsung, beragam rencana untuk menghabiskan akhir minggu.

Tidak, tentu saja saya tidak sedang selingkuh. Saya tipikal perempuan setia lho :).

Hubungan saya dengannya adalah benar hubungan perkawanan. Mas Anto sudah mengetahui bahwa saya sudah mempunyai kekasih hati. Kekasih saya yang jauh di mata itupun mengetahui perkawanan saya dengannya. Awalnya semua berjalan menyenangkan. Mendapatkan banyak perhatian dari kawan dan kekasih.
Berubah menjadi tidak menyenangkan ketika mas Anto mengungkapkan keinginannya untuk menjadi lebih dari seorang kawan bagi saya.

Bilang saya naif.
Harusnya saya sudah bisa membaca arah hubungan dari awal.
Harusnya saya bisa memilah dan memilih dengan siapa saya berkawan dekat.
Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur.
Saya tak mengiyakan permintaannya.
Dia kecewa, saya mafhum.
Perkawananpun membeku.

***

Waktu berlari. Saya dan kekasih terjerembab dalam lembah masalah, kekasih memilih menyerah dan kami pun berpisah. Di suatu malam yang saya isi dengan tangis berkepanjangan, mas Anto kembali menelepon. Mendengarkan tangis saya saja awalnya. Perlahan memberanikan diri untuk menghibur saya, terkadang membuat guyonan-guyonan garing berharap saya sedikit melupakan lara hati.

Perkawananan mulai mencair.
Dia bilang, rasa yang terendap selama beberapa waktu untuk saya tidak jua berubah. Untuk kali kedua, dia pun meminta saya. Kali ini untuk menjadi pendamping hidupnya.

Saya tak lantas mengiyakannya. Dibayangi rasa pedih tak terperi karena kandasnya hubungan sebelumnya membuat gerbang hati saya tak kunjung membuka menerima pinangannya.
Keputusan saya untuk hanya berkawan dengannya, tak kunjung membuatnya bergeming.

Dia masih menyempatkan diri mengunjungi saya di sela masa rehat dari perkerjaannya di luar pulau.
Meminjamkan telinga kala saya terjaga di tengah malam buta, terhantui oleh banyak hal.
Mengingatkan saya bahwa hidup akan terus berjalan meski sebagian mimpi kandas, tandas tak berbekas.

***

Saya mungkin bukan penganut aliran ‘witing tresno jalaran soko kulino’.
Dan begitulah.
Mas Anto terus menunggu dan saya tetap membisu. Menyadari kian tak ada titik temu, mas Anto memutuskan untuk tak lagi menunggu.

***

Pertengahan tahun, saya mendapat kabar mas Anto telah resmi meminang gadis. Seorang dokter cantik memikat hatinya. Sungguh, tak sedikitpun terselip rasa iri.
Saya bahagia. Tak lagi menyiksanya untuk menunggu lebih lama.
Dan bahagia saya berlipat dua saat sore kemarin melihat mereka berdua tersenyum bahagia di pelaminan.

Sepenggal doa saya sisipkan untuk kedua mempelai yang tengah mereguk manisnya cinta. Semoga malaikat mengamini doa saya. Dan kalian terus menjadi pasangan yang senantiasa berbahagia 🙂

 

* Malaikat Juga Tahu, Rectoverso, Dee Lestari, 2008

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Bahagiamu, Bahagiaku Pasti*

  1. wkwkwkwkw cieeeeeee Mas Anto.. ihir… tp mgkn memang bukan Mas Anto mba.. mkgn yg dulu kembali lg padamu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s