Perihal Donor Darah

Awalnya pengen nulis postingan ini pas World Blood Donor Day, 14 Juni kemarin. Tapi si blogger jomblo nan labil ini sedang dilanda kemalasan tingkat dewa ditengarai karena kelamaan menjomblo.  Karena si blogger ini menganut falsafah hidup better late than never *cucok deh sama kehidupan percintaannya #curhatdiemdiem*, jadilah postingannya baru naik cetak sebulan kemudian. Dimaapkeun ya pemirsaaaaaah. Yuk ah markicit, mari kita bercinta bercerita.

Sebagai manusia normal wajar dong ya kalo kita mempunyai ketakutan-ketakutan. Bukan masuk kategori parno sih. Takut yang masih dalam ambang batas kewajaran. Salah satu dua hal yang cukup saya takuti dari kecil adalah jarum suntik dan darah. Manusiawi kan ya takutnya? Bilang iya, bilang iya.. #maksanyaritemen. Kalo dulu sewaktu masih anak-anak, kan banyak tuh ya yang ngebet pengen jadi dokter, saya sebaliknya. Ga pernah punya cita2 jadi dokter. Saking takutnya sama jarum suntik dan darah ini.

Sepanjang ingatan saya yang super duper short term ini, pertama kali bisa ngerasa disuntik pas jaman SD kelas 1 dan kelas 2. Buat imunisasi katanya. Tapi ga tau imunisasi apaan. Ga sampe nangis kejer kayak temen yang lain sih, cuman tetep aja meringis nahan ngilu pleus sakitnya yang ga ilang2 itu. Lanjut smp, ada tuh test golongan darah. Disuntik lagi di jari tengah buat ngambil sampel darah. Combo deh takutnya. Ada jarum suntik, ada darah pula. Yassalam. Kalo kata temen2 yang lain, ga sakit. Kalo kata saya tetep sakit joniiieeee…

Petualangan saya sama darah dan jarum suntik masih terus berlanjut. Tepatnya pas di awal masa-masa perkuliahan, yang mana saya mulai ngekost juga itu. Saya yang anak rumahan dan hidup dalam segala keteraturan ini kaget dong dengan namanya kehidupan di kost. Sungguh, kehidupan di kost itu keras jendral! Akhirnya tepar, sakitnya lumayan parah. Tipes ditambah dengan gejala demam berdarah pula. Mau ga mau harus opname. Yang namanya sakit tipes tuh kan harus diambil darah, untuk nanti diperiksa. Udah gitu harus pake selang infus juga. Saya yang udah setengah pingsan itu masih bisa lho ngerasain sakitnya diambil darah dan disuntik. Oh ya, jangan lupakan jarum buat masukin selang infus yang segede jarum kasur itu… Huhuhu, tambah benci saya sama jarum suntik dan darah, dan kombo keduanya. Sempat  merasa heran dengan apa ya yang ada di benak orang-orang pendonor darah itu? Demi membantu orang lain, mereka rela ‘menyakiti’ diri mereka sendiri. Duh baik bener ya jadi orang… Kalo saya mah sorry dowwrrry demourrryyyy…

Di Jawa, ada unen-unen yang sangat melegenda, gething, nyanding. Semakin benci, semakin dideketkanlah kita dengan apa yang kita benci. Kurang lebih begitu. Tapi ini ga berlaku saat saya benci Kasep Guardiola itu ya. Sebenci-bencinya saya sama kang kasep, tetep aja ga nyanding-nyanding :D. Tapi semesta selalu mempunyai cara untuk mendekatkan saya dengan dua hal yang sama benci setengah mati itu.

Awal Mei 2001.

Hari itu hari Jumat, hari biasanya sama mudik dari Solo, tempat saya berkuliah. Jumat sore saya sampai di terminal kecil di dekat rumah, kami menyebutnya stanplat. Biasanya bapak saya akan menjemput saya di situ. Kali ini tidak ada yang menjemput. Saya memutuskan untuk berjalan kaki. Baru beberapa langkah saya bertemu dengan  Mas Budi, tetangga saya. Berbaik hati untuk memboncengkan saya. Dari dia, saya baru mengetahui kalo adek saya Laila’ Khoirunnisa’ dilarikan ke rumah sakit Mardi Rahayu Kudus karena sakit beberapa jam sebelumnya. Air mata saya menetes saat itu juga. Tanpa membuang waktu setiba di rumah, bersama keluarga yang lain saya menyusul ke rumah sakit. Di sebuah ruang perawatan, saya melihat adek saya Lala’ berbaring pucat dengan selang infus yang menancap di kaki kecilnya. Di sudut ruang, saya melihat ibuk dan bapak saya menatap pias sambil menangis. Sore itu baru saja dek Lala’ divonis menderita kanker darah. Tangis kami pecah tak terbendung. Adek kami yang paling kecil, paling cantik, sedang bertumbuh menjadi gadis cilik yang menggemaskan divonis penyakit sedemikian berat di usianya yang baru menginjak 2 tahun. Tuhan tidak adil, itu yang ada di pikiran kami saat itu.Tapi kemudian menyalahkan Tuhan dan keadaan tidaklah menyelesaikan masalah dan menyembuhkan adek saya. Kesadaran bahwa Tuhan tidak akan menguji umat-Nya di luar kemampuan umat-Nya perlahan muncul. Sedikit terlambat memang.

Atas rujukan dari RS adek saya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Karyadi Semarang. Adek saya ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam anak, kalo tidak salah dokter Bambang namanya. Di sana adek saya dirawat dengan dengan lebih baik. Infus, transfusi darah, trombosit apalah itu namanya dialirkan ke tubuh kurus adek saya. Di bangsal anak RSUP Karyadi, tidak hanya adek saya yang dirawat, ada beberapa anak dengan sakit sejenis. Miris hati saya. Adek-adek kecil yang seharusnya di usia yang penuh warna dan ceria, harus dirawat di bangsal dingin yang merenggut segala keceriaan kanak mereka dengan beberapa selang di kaki maupun tangannya. Selang infus, darah, trombosit dan apalah itu namanya. Di sana, adek saya mulai membutuhkan transfusi darah segar. Adek saya bergolongan darah O. Di keluarga hanya bapak yang bergolongan O. Saya dan ibuk bergolongan darah B. Hampir setiap hari adek saya membutuhkan darah. Pada tiap hari itu juga, kami harus mencari persediaan darah ke PMI. Sering ada, kadang juga tidak. Pada titik ini, saya baru benar-benar mengerti esensi akan pentingnya donor darah. Betapa setetes darah, kadang, membias sekat tipis antara kehidupan dan kematian.  Di sudut ruangan yang dingin dan beku, kelak saya berjanji pada diri sendiri untuk mendonorkan darah saya bagi mereka yang membutuhkan. Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang keluarga kami rasakan. Saat adek saya benar-benar membutuhkan darah, dan pada saat itu tidak ada persediaan.  Adek saya harus menahan rasa sakit dan harus menunggu tranfusi darah saat itu juga.  Kami hanya bisa menangis sembari dan  berharap keajaiban datang, seorang pendonor datang.

Akhir Mei 2001

Manusia hanya bisa berdoa dan berikhtiar, Tuhan yang pada akhirnya memutus apa yang terbaik untuk umatnya. Sekian liter infus yang dimasukkan, sekian liter darah dan trombosit yang ditranfusikan, sekian obat mahal yang harus ditebus tidak dapat menyelamatkan nyawa adik saya. Di Jumat pagi yang damai dek Lala berpulang. Di usianya yang masih teramat muda. Pukulan telak bagi kami sekeluarga. Logika saya awalnya  menolak takdir ini. Betapa adek saya yang paling muda harus meninggalkan kami semua terlebih dahulu, meninggalkan simbah-simbahnya, orang tuanya, kakak-kakaknya.. Harusnya tidak begitu. Harusnya yang lebih tua yang lebih dulu berpulang. Harusnya, harusnya dan harusnya. Sampai akhirnya saya pada titik kesadaran, bahwa itulah cara Tuhan menyayangi adik saya, membebaskan dari segala rasa sakitnya dan menempatkannya di surga dengan sungai-sungai indah yang mengalir di bawahnya, menuntun kami yang ditinggalkannya untuk mengambil hikmah dan menjadi orang yang lebih baik di kemudian hari. Keikhlasan menjawab semua pertanyaan dan penyesalan kami.

Apakah tekad saya mendonorkan darah setelah itu tetap membara setelah kepergian adek? Ternyata tidak. Ketakutan saya akan darah dan jarum suntik tidak juga meluntur. Bahkan ditambah lagi dengan trauma mendalam akan kantong darah dan printilan2nya. It then just reminded me of my late sister. Saya bahkan melewatkan momentum mendonorkan darah saya kepada orang yang paling saya cintai di dunia, ibuk saya, saat beliau membutuhkan darah yang bergolongan sama dengan saya untuk kepentingan operasi.  Saya terlalu memanjakan ketakutan saya sendiri.

People say, time heals.

Mungkin benar adanya. Sekian tahun berkubang di dalam ketakutan dan trauma, saya bertekad untuk mewujudkan janji saya dulu di bangsal anak RSUP Karyadi Semarang sekian taun silam.

Hari itu Indofood, kantor lama saya,  mengadakan kegiatan rutin triwulan dari corporate CSR yang berupa donor darah. Out of topic, keren abis memang CSR-nya Indofood ;).  Hari itu pertama kali saya berada bersama-sama para pendonor lain mengantri untuk mendonorkan darah kami. Tidak banyak, hanya 250 cc dan tidak lama, hanya 10 menit sahaja. Melewati proses pendaftaran, pengambilan sampel hemoglobin, periksa dokter dan eksekusi. Daaaaan setelah selesai rasanya senaaaaaang sekaliiiii, seperti ditembak gebetan setelah sekian lama pedekate #lebay. Akhirnya di hari itu, saya bisa memenuhi janji saya, menolong orang lain dengan sedikit darah saya, dan mungkin menerbitkan senyum di hari kelabu keluarga penderita 🙂

Kalo ditanya sakit ga waktu diambil darah untuk check hb atau ambil darah? Saya akan menjawab iya. Harap maklum ya ceuuu, saya ini kan toleransi terhadap sakit kecil banget. Cemen abis deh pokoknya. Tapi bukan yang sakit banget. Bener ga ada apa2nya dibanding sakitnya penderita yang membutuhkan darah kita. Kalo lagi berasa agak sakit, saya biasanya inget-inget wajah dek Lala waktu pucet butuh tranfusi. Dan mejiiiik, sakitnya ilang lhoh :D.

Alhamdulillah,  semakin ke sini, kan lumayan jadi semakin addict sama donor darah ya, meskipun ga pernah mau liat jarum suntik dan liat darahnya. Huehehehe.. Cemen is still in the house yoooo! Belum banyak sih catatan donor saya, belum ada dua digit. Beberapa kali niat donor, kadang hb terlalu rendah, kadang tempat donornya udap tutup sodaraaaah #misstelat.. Gapapalah ya, yang penting kan niat ya :D. In addition, thanks to technology for creating twitter, karena di sana saya bisa menemukan account yang super duper berguna bagi nusa, bangsa dan agama @Blood4LifeID. Di mana saya bisa menemukan tempat donor darah yang deket, menyebarkan kebutuhan akan darah dan hal2 yang berhubungan dengan donor darah ini.

Yuk ah mari kita berdonor darah. Sehat dan bermanfaat,  untuk manfaatnya boleh di-check di mbah gugel ya kakaaaaa…. Sekian dan terima disun 😉

ps: pamer dikit boleh ya kakaaaaaa 😀

Every blood donor is a hero :D. #worldblooddonorday2012campaign
Advertisements

4 thoughts on “Perihal Donor Darah

  1. sebelum masuk kuliah, saya salah satu pendonor dermawan looh, sampe pernah dpt penghargaan pendonor segalaaa dan sangking baenya, klo saya bisa ngasi 3 kantong silahkeun deh, tapi pas masuk kuliah, pas kenal imsomnia dan mulai kena syndrom “anti makanan” alhasil tensi darah drop se-drop2nya dan pas kapan mau donor, dgn entengnya si petugas bilang..”ini mah malah perlu di-donor”…tragissss -_____-

    ps: skrg tensi darah sayah stabil di 90/60 aja gitu..

    loh koq panjaaangg -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s