We Are DINK Family!

image
taken from betacuts.com

Repost artikel lama saya di mommiesdaily.com. Cieeh anak MD. Iya dulu jaman awal2 nikah. Lagi giat2nya TTC (trying to conceive aka usaha hamil & dihamili *halah ). Sekarang mah embuh yaa.. Bukan putus asa atau gimana. Doa pasti, ikhtiar ada. Tapi derajat kepasrahan sudah meningkat pastinya. Apalagi suami selalu ngingetin, untuk selalu mensyukuri apa yang sudah kami punya. Bukan menggugat apa yang belum kami punya. Wise bener ya suami akuuuuwh? *rabid wife mode: on πŸ˜› .

Setaun berselang dari artikel tersebut ditulis. Ya masih DINK family juga. And we are still fine. Inshaa Alloh bukan denial kok. Nah, apa itu DINK family? Cekidot broh, sistaaah πŸ˜€

****

Saya baru saja mengetahui ada istilah DINK tempo hari. Menurut wikipedia, DINK/DINKY (Dual/Double Income No Kids Yet), adalah kondisi di manaΒ keluarga mempunyai dua penghasilan, pihak suami & istri, dan masih belum mempunyai anak. Istilah inilah yang tepat mendeskripsikan kondisi keluarga kami saat ini. DINK by condition, not by choice tepatnya. Di usia pernikahan kami yang ke-10  bulan *update: sekarang udah 2 taun πŸ˜€ , saya dan suami memutuskan untuk tetap bekerja dan kami belum mendapat titipan dari Tuhan πŸ™‚ . Daripada merenungi nasib, yang seringnya berakhir dengan galau yang ga jelas, kami pun memilih untuk bersyukur dengan kondisi kami saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, menjadi keluarga DINK memberikan beberapa keuntungan bagi kami. Terutama dalam hal finansial dan hubungan interpersonal dengan pasangan. Kami berhasil membeli rumah pertama kali tak lama setelah pernikahan kami. Begitupun kendaraan, gadget, investasi. Juga segala macam untuk kebutuhan hore-hore kami. Kami bisa β€˜bebas’ mengatur keuangan tanpa memikirkan kebutuhan anak.

Pun begitu dengan hubungan interpersonal. Kebetulan saya dan suami hanya berhubungan dekat 10 bulan sebelum menikah. Sisi baik dari DINK ini adalah saya lebih mempunyai waktu untuk mengenali karakter, mendalami sifat, dan belajar memahaminya. Vice Versa. Yang namanya rumah tangga ya, dua ego dan kepala menjadi satu. Konflik pasti ada. Harapan kami sih, setelah kami bisa saling memahami, konflik pun terkurangi. Sudah menjadi komitmen kami, untuk tidak berkonflik secara terbuka di depan buah hati kami kelak.

Kata teman-teman, enak dong pacaran terus? Hahaha, ini sih iya banget. Mall hopping, nonton midnight, jalan ke mana sekedar mencari makan enak, rencana traveling, membusuk seharian di kamar, masak bareng, kerja bakti bersihin rumah bareng, hayooo ajaaaa.. Belum ada tanggungan ini kan? πŸ˜€

Tapi apa iya selamanya kami akan menjadi keluarga DINK?
Jawabnya pasti enggak ya. Kami pun ingin seperti keluarga yang lain. Mempunyai buah hati. Mungkin suatu saat kelak, saya juga berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Di usia pernikahan kami yang masih kurang dari satu tahun, sudah tiga kali ke Obgyn lho kami.. Rajin ya? πŸ˜€ . Setiap bulan pun, kami sudah menyisihkan sekian persen dari penghasilan untukΒ dana pendidikan. Hal ini kami lakukan untuk memastikan si kecil kelak mendapatkan pendidikan yang layak. Ya meskipun dia belum juga hadir di rahim saya..
Doakan sebentar lagi ya πŸ™‚

Advertisements

74 thoughts on “We Are DINK Family!

  1. Amiiin, semoga berkah itu segera datang ya Mbak… suka deh dengan pemikirannya yang antisipatif, meski belum ada anak tapi sudah mengalokasikan pendapatan buat biaya pendidikan. Semoga banyak ditiru oleh calon-calon orang tua lainnya :)).

    • aamiin :*
      makasiiiih cistel. ini aku juga udah lama ga ke obgyn. barengan ke obgyn aja bejimane? biar mas bebeb sama suami nanti nunggu sambil rumpiw πŸ˜€ πŸ˜€

  2. Aamiinn….
    Hayoook sesama DINK pelukan dulu yuuukk :p
    Aku persis seperti dirimu mbak.. mau ngapain aja berdua hayuk, kalo libur membusuk seharian di kamar juga hayuk. Kalo ditanya ‘ga pingin nih punya anak’? Ya pingin donk keleus, ah DINK bahagia dengan caranya sendiri, jangan dinyinyirin dan dijudge cem macem dek :))) *iki nulise sambil berapi api*
    Semoga kita disegerakan yak πŸ˜€

    • berpelukan DINK cabang Soerabatja :*
      ini mungkin cara Tuhan, memberikan waktu lebih banyak buat kita pacaran halal ya mba πŸ˜€ . positif banget ya akoooh. semoga begitupun dengan tespek. disambung2in deh πŸ˜€

      • aku mau juga dong peluk2an biar kek teletubies… sesama masih DINK juga nih, salam semangat pantang menyerahh… *jadi pengen nulis dengan tema ini pankapan* boleh ya mba say…

      • *berpelukaaaan*
        iyaa semangat. pantang menyerah. wong enak kok ya? *diselepet jilbab* πŸ˜€ πŸ˜€
        boleh Mbak, silahkeun monggo πŸ˜€

  3. Amiiinnn… Yeaaayyy.. Semangat mba Santi… hughug…
    Aku pun begituu… ngalamin jadi keluarga DINK selama hampir 4thn, pacaran sblm menikah 3 thn, jadi total pacaran ya 7 tahun… *lama yak pacarannya..*

  4. Aamiin ya Allah :). Tiap orang emang rezekinya beda-beda ya Ka, asal gimana masing2 buat ambil hikmah dan dibikin fun aja πŸ˜€

    • aamiin. suwun mbak Dewi.
      tapi tapi worth the wait ya mbaa… Aidan lucu bangeeet πŸ˜€

      *liat truk*
      mami mamiii ada tuwwwwruuuuk πŸ˜€ *ngakak kejengkang πŸ˜€

      • hahahhaha..amiinnn.. Iya worth the wait..

        walau seringnya aku pun merasa bersalah.. apakah sudah jadi ortu dan ibu yang baik, apa anakku akan baik-baik saja, apa dia bahagia punya ortu macam gue.. semacam ituu..

        *biasa, emak2 galau hihih*

  5. Duh mbak enakan yang kya gitu apa ya, nikah siap mental siap dana siap semua2nya jadinya kalo ada yang ketunda dikit bisa agak lempeng drpd belum siap (punya anak) eeehh malah conceived jadinya kaget. Boro2 ngurus anak, ngurus diri sendiri aja belum becus. Udah lah nyantai ajaaaa πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s